Program yang dirancang oleh Valen Intanulsitta ini
menjadi salah satu upaya yang dihadirkan guna menanamkan pemahaman mengenai Gender Equality, Disability and Social
Inclusion (GEDSI) sejak usia dini sebagai landasan terciptanya ruang aman,
ekosistem yang saling menghargai, dan tempat berkembang yang bebas dari
diskriminasi.
Memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama, siswa baru
SMPN 3 Gantarangkeke memasuki fase krusial dalam pembentukan karakteristik remaja.
Oleh karena itu, diperlukan ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada
akademik, tetapi juga ruang yang mampu memantik kesadaran tentang pentingnya
menciptakan lingkungan yang aman bagi siapapun dan dimanapun.
Kegiatan diawali dengan ice breaking untuk membangun kedekatan dan mengidentifikasi
pengetahuan awal peserta didik perihal bentuk-bentuk stereotip gender yang
sering ditemui di kehidupan sehari-hari.
Materi perihal GEDSI disampaikan oleh dua narasumber yang memiliki latar belakang pengalaman dalam isu kesetaraan gender, ruang aman, dan pencegahan kekerasan seksual. Pemateri pertama berasal dari kolektif SETARA, sebuah komunitas yang berfokus pada advokasi isu kesetaraan dan pencegahan kekerasan seksual di lingkup Universitas Islam Indonesia Makassar. Sementara itu, pemateri kedua merupakan Pelaksana Tugas (Plt.) Pres BEM Universitas Negeri Makassar yang aktif dalam berbagai gerakan kesetaraan gender dan hak disabilitas.
Dengan beragam stereotip gender yang masih berkembang
di masyarakat, pemateri menegaskan bahwa;
“mimpi itu tidak
punya jenis kelamin, setiap orang punya kesempatan untuk belajar, berpendapat,
memimpin dan berkembang”
Di akhir kegiatan, peserta menyusun Zhine sebagai media ekspresi yang memuat refleksi, puisi, dan pemahaman mereka tentang kesetaraan, inklusi serta pentingnya menciptakan ruang aman dimana-mana.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin berharap nilai-nilai kesetaraan, inklusi, dan penghormatan terhadap keberagaman dapat tertanam dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Edukasi mengenai Gender Equality, Disability and Social Inclusion (GEDSI) tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga membangun keberanian untuk saling menghargai perbedaan, menolak segala bentuk perundungan (bullying), diskriminasi, serta kekerasan yang dapat menghambat tumbuh kembang remaja. Dengan demikian, sekolah diharapkan menjadi ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh warga sekolah tanpa memandang jenis kelamin, kondisi disabilitas, maupun latar belakang sosial.
Penanggung jawab program, Valen Intanulsitta, menyampaikan bahwa melalui Zhine-klusi Tanahloe, mahasiswa KKN ingin menghadirkan pendekatan edukasi yang kreatif dan dekat dengan dunia remaja sehingga pesan mengenai ruang aman dan kesetaraan lebih mudah dipahami dan diimplementasikan. Ia berharap karya zhine yang dihasilkan peserta tidak hanya menjadi luaran kegiatan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk dihargai, didengar, dan berkembang. Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya sekolah yang lebih inklusif sekaligus memperkuat komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan.