Membaca Cara Berpikir Kepala Desa Bontojai dibalik Suksesnya Festival Pesta Panen Raya Tahun 2025


Bontocani- Pada malam puncak Festival Pesta Panen Raya Desa Bontojai, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, tepatnya 31 Desember 2025, menjelang pergantian tahun 2026, saya menyempatkan diri berkunjung langsung ke Desa Bontojai. Tujuan saya sederhana, ingin melihat dari dekat seperti apa wajah perayaan pesta panen yang belakangan banyak diperbincangkan dan ramai di media sosial itu. Namun, apa yang saya temui di sana ternyata lebih dari sekadar kemeriahan acara.

Tak lama setelah tiba, Bapak Kepala Desa Bontojai A.Alimuddin, memanggil saya untuk makan bersama. Di hadapan kami tersaji beragam menu makanan semuanya berasal dari hasil pertanian warga Desa Bontojai. Dari olahan padi, jagung, umbi-umbian, hingga hasil kebun lainnya, meja makan malam itu seolah menjadi etalase kecil tentang kekayaan desa. Bukan sekadar jamuan, tetapi simbol rasa syukur yang nyata.
Di situlah percakapan kami mengalir. Bukan percakapan formal ala pejabat, melainkan diskusi santai tentang ide, proses, dan keyakinan di balik penyelenggaraan Festival Pesta Panen Raya 2025. Dari perbincangan itulah saya mulai memahami bahwa kesuksesan acara ini bukan kebetulan, melainkan buah dari cara berpikir yang tidak biasa out of the box dan keberanian mengambil risiko.

Salah satu hal yang paling menarik adalah bagaimana festival ini tidak berdiri sendiri. Kepala Desa Bontojai A. Alimuddin memulainya dengan pembukaan Turnamen Sepak Bola Bontojai Cup I, yang diikuti oleh tujuh tim dari berbagai desa. Mengejutkannya lagi adalah, kegiatan besar ini dilaksanakan tanpa pengamanan aparat kepolisian. Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terdengar nekat. Namun bagi A. Alimuddin, justru di situlah letak kepercayaan.

Menurutnya, keamanan tidak selalu harus hadir dalam bentuk seragam dan senjata. Keamanan bisa tumbuh dari rasa memiliki. Ia melibatkan seluruh elemen masyarakat tokoh pemuda, tokoh adat, dan warga desa untuk menjaga jalannya kegiatan. Dan hasilnya, seluruh rangkaian acara berlangsung aman dan tertib.

Dalam diskusi kami, Kepala Desa Bontojai A. Alimuddin mengemukakan pandangan yang cukup tajam tentang anak muda. Ia berangkat dari keyakinan bahwa banyak keributan yang melibatkan pemuda sejatinya bukan karena niat buruk, melainkan karena tidak tersedianya ruang untuk menyalurkan energi, bakat, dan kreativitas. Katanya, anak muda tidak bisa hanya diminta untuk tenang tanpa diberi wadah.

Dari situlah ide besar itu lahir, sebelum potensi konflik muncul, sediakan panggungnya terlebih dahulu. Olahraga menjadi pintu masuknya. Sepak bola menjadi media pemersatu. Setelah energi tersalurkan, barulah desa diajak merayakan rasa syukur melalui Festival Pesta Panen Raya sebuah perayaan yang menggabungkan budaya, kebersamaan, dan identitas desa.

Yang tak kalah menarik, seluruh rangkaian kegiatan ini tidak menggunakan pendanaan dari luar, baik dalam bentuk sponsorship maupun bantuan pihak ketiga. Semua digerakkan dari dalam desa. Swadaya, gotong royong, dan kepercayaan pada potensi lokal menjadi modal utamanya. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa Desa Bontojai memiliki kekuatan besar untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Dari perbincangan malam itu, saya mendapat jawaban mengapa Festival Pesta Panen Raya 2025 Desa Bontojai dapat berjalan dengan sangat baik, dari awal hingga akhir. Kuncinya bukan pada besarnya anggaran atau kemewahan acara, melainkan pada cara berpikir pemimpinnya yang berani, percaya pada warganya, dan mampu membaca kebutuhan sosial masyarakat.

A. Alimuddin selaku kepala Desa Bontonai tidak memulai dari pertanyaan “berapa dana yang kita punya?”, melainkan dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar yakni apa yang dibutuhkan warga desa hari ini? Dari sanalah ide-ide itu tumbuh, dirangkai, dan dijalankan dengan konsisten.

Festival Pesta Panen Raya Desa Bontojai 2025 akhirnya bukan hanya tentang perayaan hasil pertanian. Ia menjadi cermin tentang bagaimana sebuah desa bisa dikelola dengan pendekatan manusiawi, partisipatif, dan visioner. Dan di balik itu semua, ada satu pelajaran penting, bahwa ketika pemimpin desa berani berpikir berbeda dan percaya pada warganya sendiri, desa tidak hanya bisa merayakan panen tetapi juga masa depannya.

Meski demikian sebagaimana kebijakan publik lainnya, pendekatan ini tentu memerlukan evaluasi berkelanjutan agar tidak hanya berhasil secara momentum, tetapi juga konsisten dalam jangka panjang.

Penulis: Andi Muh. Asdar
Lebih baru Lebih lama