Jakarta, - Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan bahwa Indonesia tidak seharusnya berada dalam forum internasional yang mengusung agenda perdamaian apabila forum tersebut menutup mata terhadap pelanggaran hukum internasional oleh pihak yang menjadi pendirinya.
Pernyataan tersebut disampaikan Anies melalui sebuah video yang diunggah di akun TikTok pribadinya pada Jumat (7/3/2026) saat menanggapi dinamika geopolitik global, khususnya setelah serangan militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran yang memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut Anies, situasi tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai konsistensi forum internasional yang mengklaim membawa misi perdamaian dunia, namun dipimpin oleh pihak yang justru melakukan tindakan militer yang dinilai melanggar prinsip-prinsip hukum internasional.
“Indonesia tidak bisa berada dalam forum perdamaian yang menutup mata pada pelanggaran hukum internasional oleh pendirinya sendiri,” tegas Anies.
Ia menilai sikap tersebut penting untuk menjaga integritas dan kredibilitas Indonesia dalam diplomasi internasional. Sebagai negara yang sejak awal berdiri berkomitmen pada prinsip perdamaian dan keadilan global, Indonesia dinilai tidak dapat bersikap pasif terhadap tindakan yang berpotensi melanggar hukum internasional.
Anies juga mengingatkan bahwa sejak era Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, Indonesia memiliki warisan diplomasi yang kuat dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa, menolak agresi militer, serta mendorong penyelesaian konflik melalui dialog dan kerja sama internasional.
Karena itu, ia mengajak pemerintah untuk meninjau kembali posisi Indonesia dalam forum Board of Peace agar tetap sejalan dengan nilai-nilai diplomasi Indonesia yang menjunjung keadilan dan kedaulatan negara.
“Apakah kita rela menukar warisan Spirit of Bandung dengan sekadar simbol keikutsertaan dalam dewan perdamaian yang tidak mampu menjaga prinsipnya sendiri,” ujar Anies.
Ia menambahkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi simbol kehadiran dalam forum perdamaian, tetapi harus memastikan bahwa forum tersebut benar-benar menjunjung nilai-nilai perdamaian dan keadilan global.
Pernyataan Anies tersebut pun memicu diskusi luas di ruang publik mengenai posisi Indonesia dalam berbagai forum internasional di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks.
