Perjalanan Menemukan Makna "Lettuki Jolo Nappa Jokka"


Bone- Sejak dahulu, suku Bugis dikenal sebagai perantau yang tangguh. Tidak mengherankan jika hampir di setiap daerah di wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke kita menemukan orang Bugis. Dan tidak sedikit pula di antara para perantau Bugis yang berhasil dan sukses di tanah rantau.

Satu hal yang hampir selalu dipegang oleh orang Bugis di balik kesuksesan tersebut adalah sebuah kearifan lokal yang sangat filosofis, yakni “Lettuki Jolo Nappa Jokka.”

Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, “Lettuki Jolo Nappa Jokka” berarti: sampai sebelum berangkat.

Secara logika, ungkapan ini tentu terdengar paradoks dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang bisa sampai, sementara berangkat saja belum?

Setidaknya, itulah yang menjadi perenungan saya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagaimana tidak, seorang anak yang usianya bahkan belum genap puluhan tahun justru dihadapkan pada sebuah pernyataan yang terasa sangat tidak logis. Sudah barang tentu, otak saya menolaknya mentah-mentah.

Saya masih mengingat dengan jelas saat pertama kali ungkapan itu disampaikan oleh Etta (ayah) saya. Saat itu saya sedang membuat miniatur rumah dari bahan koran bekas yang digulung hingga menyerupai bentuk pensil, lalu disusun menjadi sebuah miniatur rumah sederhana. Jika ingatan saya tidak keliru, miniatur rumah tersebut adalah tugas kerajinan tangan dari sekolah yang harus dikumpulkan pada pekan berikutnya.

Jauh sebelum proyek miniatur rumah itu jadi bahkan sebelum bentuknya terlihat sama sekali tiba-tiba Etta (ayah) saya berkata dari belakang bahwa dalam melakukan segala sesuatu harus “lettuki jolo nappa jokka.” Pada waktu itu, saya menafsirkan ucapannya sebagai: miniatur rumah yang saya bangun ini harus sudah jadi terlebih dahulu sebelum dibangun.

Spontan saya menjawab dengan penuh keyakinan, “Tidak mungkinki sampai kalau belum berangkat, Etta.” Namun alih-alih memberikan penjelasan yang saya harapkan, beliau hanya menggelengkan kepala, lalu meninggalkan saya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

Sejak kalimat itu diucapkan, rasa ingin tahu saya terhadap maknanya begitu menggebu-gebu. Bahkan miniatur rumah yang hendak saya bangun pun sempat mangkrak selama beberapa jam karena pikiran saya sibuk memikirkan ungkapan tersebut dan berusaha mencari jawabannya.

Puncaknya terjadi sekitar delapan tahun kemudian, tepatnya saat saya lulus dari bangku SMA. Pada waktu itu, sebenarnya ungkapan “Lettuki Jolo Nappa Jokka” sudah mulai pudar dari ingatan saya. Namun ketika saya hendak berangkat ke Kota Makassar untuk melanjutkan pendidikan, kalimat itu kembali saya dengar dari orang yang sama. Dan sekali lagi, saya tidak diberi penjelasan apa pun, hanya pesan untuk memikirkannya dan menemukan sendiri maknanya.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk tidak lagi bertanya kepada siapa pun tentang ungkapan aneh itu, dan memilih untuk menemukan jawabannya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, saya diterima di salah satu universitas di Kota Makassar. Sejak saat itu, aktivitas saya tidak hanya sebatas kuliah dan membaca. Saya mulai aktif dalam berbagai organisasi, terlibat sebagai penyelenggara kegiatan, hingga pernah terpilih menjadi ketua umum salah satu organisasi mahasiswa.

Dari seluruh pengalaman dan pengetahuan yang saya peroleh, saya menyadari satu hal penting: bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Segalanya melalui tahap perencanaan, dan baik atau buruknya hasil akhir sangat ditentukan oleh seberapa matang perencanaan tersebut. Setidaknya, pengalaman saya dalam berbagai kegiatan akademik dan kemahasiswaan membuktikan hal itu.

Berbekal pemahaman tersebut, saya perlahan menyadari bahwa makna dari ungkapan “Lettuki Jolo Nappa Jokka” sejatinya sama dengan kalimat yang sering saya ucapkan setiap kali hendak menjalankan sebuah rencana, yaitu: “pikirkan dulu sebelum melangkah.”

Tujuannya sama: bahwa perjalanan yang kita tempuh bukanlah perjudian nasib, melainkan harus ditopang oleh perencanaan dan strategi yang matang.

“Lettuki Jolo Nappa Jokka” adalah ungkapan filosofis yang sangat dalam. Kata “Lettu” (sampai) yang dimaksud bukanlah kehadiran fisik, melainkan kehadiran batin dan pikiran. Artinya, kita harus “sampai” pada tujuan melalui perenungan, perencanaan, strategi, perhitungan, visi ke depan, serta bayangan yang matang jauh sebelum kita benar-benar bergerak menuju tujuan tersebut.

Perencanaan yang matang mencegah tindakan yang serampangan, sementara visi ke depan memberikan panduan arah, sehingga setiap usaha yang kita lakukan memiliki tujuan yang jelas. Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang Bugis sukses di perantauan dan dikenal sebagai pribadi yang tidak bekerja secara asal-asalan.

Namun, “Lettuki Jolo Nappa Jokka” tidak mengajarkan kita sekadar bermimpi atau berangan-angan kosong. Ia mengajarkan kita untuk memahami ke mana kita akan pergi dan mengapa kita harus pergi. Dengan kata lain, pikiran dan tindakan harus berjalan selaras. Tiba dalam pikiran berarti siap dalam tindakan.

Oleh karena itu, benar adanya bahwa kesuksesan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari perjalanan batin yang telah lebih dahulu selesai.

Penulis: Andi Muh. Asdar

Lebih baru Lebih lama